images 2

Puisi Cevi Whiesa dan Rezqie M. A. Atmanegara

Mukadimah

Selalu ada tema besar pada sebuah puisi yang melatari larik-lariknya bernas untuk dimaknai. Pada puisi Cevi Whiesa misalnya, kita menemukan larik pembuka puisinya Tentang apa kutulis dirimu/Sejak kau hidup sebagai satu nama, yang kutahu; tubuhmu banyak/bersandar di tembok perkantoran, gapura pasar, pinggiran trotoar/
dan taman kota. Sesekali kulihat namamu muncul dalam kabar pagi/di layar kaca bernuansa kesedihan, biasanya. Hanya itukah dirimu?. Ada sebuah reportase yang dihadirkan olehnya agar pembaca dapat masuk ke dalam makna puisi, bahwa ia sedang membicarakan sebuah nama. Lalu, siapakah nama itu? Di larik keduanya, ia memberikan ‘klu’ yaitu ‘waktu’. dan larik akhir puisinya, ia pun mengubah kekuatan puisinya pada satu nama ‘gusti’. Bisa saja nama-nama itu menjadi pondasi dasar puisinya untuk masuk kepada realitas kehidupan yang tengah dihadapi olehnya atau kebanyakan orang.

Lain halnya dengan Rezqie M. A. Atmanegara. Pada judul puisinya, kita sudah dapat melihat tema besar apa yang tengah dibicarakan di dalam puisi itu. Ia membidik kopi Aranio. Meskipun ia tidak terlalu dalam masuk ke ruang realitas sejarah kopi tersebut, namun ada hal lain yang ia ingin tawarkan pada pembaca, yaitu khasiat kopi sekaligus mengharapkan majunya kehidupan petani kopi Aranio. Ada kegelisahan pada dirinya tentang kehidupan petani-petani kopi Aranio yang berada di Kalimantan Selatan. Begitulah puisi, tidak sekadar menderetkan kata-kata. Selamat membaca. (redaksi).

Puisi Cevi Whiesa
Tentang Apa Kutulis Namamu

Tentang apa kutulis dirimu
Sejak kau hidup sebagai satu nama, yang kutahu; tubuhmu banyak
bersandar di tembok perkantoran, gapura pasar, pinggiran trotoar,
dan taman kota. Sesekali kulihat namamu muncul dalam kabar pagi
di layar kaca bernuansa kesedihan, biasanya. Hanya itukah dirimu?

Bangunkan aku waktu
Hati ini diselimuti elegi melihat tubuh-tubuh gunung mengenalkanmu
tempat keasrian yang kini mulai mati. Selangkangannya diacak-acak
mulutnya disumpal keadaan, tak ada isyarat dan bahasa.

Raut wajah apa harus kulihatkan
saat para pemuja kehilangan tawa melihat keagungan waktu membukakan
tabir, sungguh mengerikan lembar-lembar kisah di dalamnya.

Apalagi kuceritakan tentangmu
ataukah jeritan di jalanan itu dengan sepatu perusak pagar perkantoran
tangis bayi-bayi terabaikan di hening malam, coretan-coretan di tembok kios
di sepanjang jalan itu

Duh gusti, apakah sebenarnya hakikat nama

Apa yang harus diabadikan
tak ada lagi keagungan saat namamu berulang di tanggal berapa
terhapus oleh mereka; keringat pak tua yang mengayuh becak,
para petani yang kehilangan ladang, para pejabat yang kehilangan dasi,
anak-anak gelandangan pencari sebutir nasi. Sungguh aku tak tau,
inikah rasanya gusti?
Namamu abadi entah sampai kapan. Setia, di meja belajarku.

Tasikmalaya, 2020

Cevi Whiesa Manunggaling Hurip. Lahir di Tasikmalaya pada 2002. Kumpulan puisi pertamanya berjudul Setia Ialah Farhatun (2020). Selain menulis, aktif sebagai dalang wayang golek, penyiar radio, mengajar di beberapa taman baca masyarakat dan sanggar seni.

Puisi Rezqie M. A. Atmanegara
Secangkir Riwayat Kopi Aranio

dari lereng bukit Meratus
kuhirup secangkir kopi aranio
kepul harumnya terkenang bau tanah
pada tubuh tua petani kopi kampung
bulir keringatnya adalah biji-biji kopi
tumbuh rimbun sejak penjajahan dahulu
masih setia subur dalam perawatanmu

berbedak tebal di bawah caping
mengayun parang pada gembur tanah
menyiangi tagah jurai rumput dan gulma
yang ingin merebut akar kebun pohon kopi
dari hamparan tanah leluhur bertuah luhur

kopi aranio berbiji kecil kuning ranum
melepas penat bersama kuaran uap kopi
penambah stamina pada kebugaran raga
penahan kantuk di padat rutinitas seharian
tapi para petani kopi terjaga dalam mimpi
punya pabrik kopi seluas lapang kesabaran

pada meja perjamuan hingga warung pinggiran
dari rakyat jelata, kaum kuasa dan para ulama
tak berbatas dalam renyah tawa dan kelakar
tak ada pembeda bila sudah menikmati kopi
karena kopi ialah minuman identitas daerah

ketika senyum merekah, biji kopi pecah
ditumbuk serbuk beraroma menggoda
terseduh ke dalam cangkir mengepul
dilarungan manis serpihan gula
pada pejam seruput kenikmatan
ada rasa syukur terucapkan

2020

Kopi Aranio: jenis kopi robusta dari lereng pegunungan Meratus, kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan yang masih terbatas terkenal di kalangan luar daerah.

Rezqie M. A. Atmanegara. Lahir di Hulu Sungai Tengah, 5 Juni. Antologi tunggalnya Sesajen (2021). Karyanya tersiar dari lokal hingga nasional. Karyanya juga terbit di berbagai media cetak dan elektronik: Majalah budaya Jawara, Pikiran Rakyat, Riau Pos, dll. Terangkum di antologi bersama: Lurus Jalan ke Payakumbuh (2021) dll. Biografinya terdapat dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia (2017) dan  Leksikon Penyair Kalimantan Selatan 1930-2020 (2020). Pembina Sanggar Buluh Marindu Kalimantan Selatan (2014), Menerima Penghargaan Hadiah Seni (Sastra) dari Walikota Banjarbaru-Kalsel (2015).